sponsored

KETIKA KAMI DILARANG KEMBALI PERGI UNTUK MENDAKI


Sekolah adalah tempat kita belajar. Seluruh ilmu kita ambil dari para guru yang telah mengajari kita semenjak kita bersekolah TK - Taman Kanak-kanak, hingga minimal kita berlanjut ke Sekolah Dsar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Tingkat Atas hingga Perguruan Tinggi. Ilmu yang kita dapat adalah ilmu yang bersifat formal yaitu sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan oleh Pemerintah melalui Departemen Pendidikan. Sementara itu, ilmu-ilmu yang tidak kita dapatkan dari kurikulum bisanya disebut dengan ilmu non formal. Hal ini bisa kita dapatkan melalui kursus, Sekolah-sekolah spesialisasi dan lain sebagainya.

Pada saat penulis berusia Sekolah Menengah Tingkat Atas (dahulu disebut SMA), terdapat wadah dimana siswa mendapatkan pendidikan non formal melalui cara adanya kegiatan Extra kurikuler yaitu pendidikan diluar jam sekolah. Saat itu kegiatan diadakan 2 minggu sekali di sekolah pada hari Minggu pagi hingga pertengahan siang hari. Banyak ragam kegiatan Extra Kurikuler atau terkenal dengan istilah "Ekskul" yang diadakan disekolah Pada saat itu penulis memilih kegiatan Pencinta Alam karena memang pada dasarnya penulis senang untuk berkegiatan di luar ruang.

Dalam pendidikan selama 1 tahun  pertama yaitu saat penulis berada di kelas satu SMA, dalam kegiatan ektra kurikuler Pencinta Alam diberikan banyak berbagai teori mengenai kegiatan Pencinta Alam (dahulu kami bangga dengan sebutan "anak-anak PA). Teori Mountainering, Survival, Tali Temali, Membaca kompas, Manajemen Perjalanan dan lain sebagainya  diberikan oleh Kakak-kakak Senior kepada kami sebagai Juniornya. Setiap waktu tertentu, kami diberikan ujian berupa tes dilapangan atas apa semua pelajaran non formal sebelumnya. Disetiap ujian kami memiliki tingkatan, dari mulai calon junior, junior hingga dapat menjadi Senior. Karena pendidikan tersebut bersifat ekskul serta darah muda saat itu , terkadang dalam pembawaannya banyak dilakukan kegiatan bersifat tidak sesuai dengan kaidah pendidikan formal. Hukuman fisik berupa push up, sit up hingga scout jump diberikan kepada kami yang tidak dapat menjawab pertanyaan para senior yang ada. Jurit Malam pada saat itu merupakan kegiatan yang sangat menakutkan, karena fisik, mental dan kepandaian kami diuji hingga larut malam menjelang subuh.

Akan tetapi, banyak manfaat dari pelatihan ekskul Pencinta alam yang kini penulis dan rekan-rekan seangkatan penulis rasakan. Tidak ada dendam kepada kakak kelas/ senior yang telah menggojlok kami. Pertemanan yang ada bahkan berlanjut hingga usia kami saat ini. Rasa kebersamaan telah didapat pada saat Junior dilantik sebagai  Senior di kelas 2 SMA. Saat sudah menjadi Senior, giliran kamilah yang harus memberikan ilmu dan manfaatnya kepada para Junior kami sebagai regenerasi kami di masa depan.

Dalam perjalanannya memang tidak selalu sempurna apa yang kami dapat. Kadang-kadang darah muda kami saat itu sebagai pemuda tanggung membawa kami kedalam situasi yang merepotkan Guru-Guru kami di sekolah. Akan tetapi semuanya selalu dapat kami pertanggungjawabkan. Rasa saling melindungi dan kekompakan kami pun berlanjut di luar sekolah hingga di usia kerja saat ini. Ada persamaan yang selalu mengikat kami untuk selalu datang bertemu hingga akhirnya kami memiliki hingga 26 angkatan.

Sikap mental dan fisik yang dilatih saat muda dulu hingga kini terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Kami selalu menjadi lebih kreatif dalam memandang suatu masalah. Kami menjadi lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja. Kami tidak merasa memiliki status sosial yang berbeda meski seseorang dari kami memiliki kehidupan yang jauh lebih beruntung dibanding lainnya. Dan yang utama, kami seperti memiliki keluarga kedua yang berada di luar rumah sebagai tempat untuk berkumpul. Hingga saat ini.

Sayangnya, kegiatan ekskul kami di Sekolah saat ini telah dinyatakan tidak ada alias bubar dengan alasan sepi peminat sejak sekitar 4-5 tahun terakhir. Rasanya tidak adil apabila ada sekolah yang kemudian menutup kegiatan Ekskul kami dengan hanya memandang dari satu sisi atas sebuah organisasi yang terjadi di masa lalu. Semua kejadian memiliki sisi positf dan negatif. Efek yang dirasakan jauh lebih banyak dibandingkan efek negatif yang ada. Tidak akan ada suatu hal disebut negatif apabila berdiri sendiri tanpa ada hal positif sebagai perbandingannya. 

Kini kami masih berjuang untuk mengembalikan bendera kami untuk kembali berkibar di semua puncak gunung nusantara. Tolong kenang kami masa lalu sebagai bagian dari cerita dulu, kini semua sudah berubah dan kami pun telah berubah.

Doakan kami.

Comments